<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>minalaras</title>
	<atom:link href="http://minalaras.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://minalaras.wordpress.com</link>
	<description>UMKM Perikanan Inovatif Indonesia; BISA!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Apr 2013 04:44:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='minalaras.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>minalaras</title>
		<link>http://minalaras.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://minalaras.wordpress.com/osd.xml" title="minalaras" />
	<atom:link rel='hub' href='http://minalaras.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tortila Rumput Laut</title>
		<link>http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/tortila-rumput-laut/</link>
		<comments>http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/tortila-rumput-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 10:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>minalaras</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<category><![CDATA[chips]]></category>
		<category><![CDATA[rumput laut]]></category>
		<category><![CDATA[tortilla]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://minalaras.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia merupakan negara penghasil jagung terbesar di Asia Tenggara dan nomor tujuh di dunia dengan produksi 3 juta ton setiap tahunnya (Surjanta, 1977). Daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia adalah Pulau Jawa dan Madura, dengan produksi kurang lebih 2 juta &#8230; <a href="http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/tortila-rumput-laut/">Lanjut membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=minalaras.wordpress.com&#038;blog=35220038&#038;post=21&#038;subd=minalaras&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-22" title="Rumput Laut Mina Laras" src="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-3.jpg?w=640" alt=""   /></a></p>
<p>Indonesia merupakan negara penghasil jagung terbesar di Asia Tenggara dan nomor tujuh di dunia dengan produksi 3 juta ton setiap tahunnya (Surjanta, 1977). Daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia adalah Pulau Jawa dan Madura, dengan produksi kurang lebih 2 juta ton per tahun (Biro Pusat Statistik, 1982). Di Indonesia, jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi, sedangkan di tingkat dunia jagung merupakan bahan makanan pokok peringkat ketiga setelah padi dan gandum. Selama ini jagung lokal banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, padahal dilihat dari nutrisinya jagung lokal cukup potensial sebagai diversifikasi produk olahan pangan. Apalagi, potensi jagung lokal di Desa Pendowoharjo (lokasi kegiatan) mencapai 248.435 ton setiap tahunnya.</p>
<p>Jagung adalah salah satu sumber karbohidrat dan dapat menggantikan beras sebab jagung memiliki kalori (320 kal) yang hampir sama dengan kalori padi yaitu 350 kal (Anonim, 1993). Selama ini jagung lebih banyak dikonsumsi sebagai jagung rebus atau jagung bakar, dan di daerah pedesaan lebih dikenal produk olahan basah dari jagung seperti grontol dan jenang jagung yang daya simpannya relatif pendek. Untuk itu perlu upaya inovatif dalam menciptakan produk makanan dari jagung yang lebih menarik bentuk dan cara penyajiannya terutama produk olahan kering sehingga daya tahannya lebih lama. Inovasi yang kami lakukan adalah mengkombinasikan pengolahan jagung dengan bahan pangan lain guna mendapatkan makanan lokal unggul dalam hal ini adalah rumput laut yang merupakan potensi lokal pantai selatan Yogyakarta.</p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p><a href="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/tortilla-rl-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-23" title="Tortilla Rumput Laut" src="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/tortilla-rl-1.jpg?w=640" alt=""   /></a></p>
<p>Menurut penelitian Jati (1996), di Pantai Selatan Yogyakarta terdapat 24 spesies rumput laut yang tumbuh subur di Pesisir Gunungkidul, diantaranya adalah <em>Gelidium </em>sp., <em>Gracilaria </em>sp., dan <em>Gigartina </em>sp. Rumput laut tersebut hingga kini belum dijadikan produk olahan, tetapi hanya sebatas menjadi komoditas perdagangan rumput laut kering karena keterbatasan teknologi pascapanen serta kesulitan dalam kegiatan pengolahan rumput laut. Data Departemen Kelautan dan Perikanan (2003), menyatakan bahwa daerah Yogyakarta dan Pacitan merupakan daerah potensial penghasil rumput laut <em>Gelidium sp.</em> dengan produksi antara 120-180 ton/tahun, <em>Gracilaria </em><em>sp.</em> antara 30-50 ton/tahun, dan <em>Gigartina sp.</em> antara 20-30 ton/tahun. Sampai saat ini rumput laut tersebut diperdagangkan dalam bentuk kering dengan harga yang sangat murah yaitu Rp 2.000,00/kg. Untuk itu diperlukan pengembangan produk dari rumput laut dengan tujuan meningkatkan daya terima masyarakat, penggunaan, nilai ekonomis, serta menggali unsur kewirausahaan dari komoditas yang belum diusahakan tersebut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/minalaras.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/minalaras.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=minalaras.wordpress.com&#038;blog=35220038&#038;post=21&#038;subd=minalaras&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/tortila-rumput-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de117d7fae1a6fcd37a27039f4e3477c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">minalaras</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumput Laut Mina Laras</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/tortilla-rl-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tortilla Rumput Laut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nata de Seaweeds</title>
		<link>http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/nata-de-seaweeds/</link>
		<comments>http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/nata-de-seaweeds/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 09:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>minalaras</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://minalaras.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Nata Rumput Laut (Nata de Seaweeds) merupakan salah satu diversifikasi produk pascapanen rumput laut yang dapat dijadikan sebagai inovasi baru produk nata. Pembuatan nata selama ini menggunakan bahan baku air kelapa (nata de coco) yang sangat terbatas ketersediaan bahan-bakunya sehingga &#8230; <a href="http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/nata-de-seaweeds/">Lanjut membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=minalaras.wordpress.com&#038;blog=35220038&#038;post=14&#038;subd=minalaras&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-19" title="Nata de Seaweeds" src="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-2.jpg?w=640" alt=""   /></a><a href="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-1.jpg"><br />
</a></p>
<p>Nata Rumput Laut (<em>Nata de Seaweeds</em>) merupakan salah satu diversifikasi produk pascapanen rumput laut yang dapat dijadikan sebagai inovasi baru produk nata. Pembuatan nata selama ini menggunakan bahan baku air kelapa (<em>nata de coco) </em>yang sangat terbatas ketersediaan bahan-bakunya sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. Dengan bahan-baku yang berasal dari rumput laut, <em>nata de seaweeds</em> akan menjadi produk agroindustri unggulan Indonesia mengingat Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar di dunia. Usaha <em>nata de seaweeds </em>ini juga memiliki keunggulan lain, yaitu melibatkan usaha mikro kecil petani rumput laut di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga dari segi ketersediaan bahan-baku maupun keberlanjutan usaha dapat terjamin karena menggunakan pendekatan berbasis pemberdayaan kelompok masyarakat.</p>
<p><span id="more-14"></span></p>
<p><a href="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-16" title="Rumput Laut" src="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-1.jpg?w=640" alt=""   /></a></p>
<p>Keunggulan <em>nata de seaweeds </em>dibandingkan nata lainnya adalah ketersediaan bahan-baku rumput laut yang mencapai 6.067.000 ton/tahun, teknologi proses lebih ekonomis karena tidak memerlukan penambahan asam asetat seperti halnya pembuatan <em>nata de coco, </em>prinsip pembuatan produk tidak menghasilkan limbah (<em>zero waste fisheries</em>) terutama limbah asam, lebih efisien dalam penambahan gula pasir karena kadar karbohidrat kompleks dalam rumput laut tinggi setelah dilakukan proses hidrolisia asam, serta produk yang dihasilkan lebih baik dalam hal bentuk, rasa, tekstur, maupun warnanya. Dari segi nilai gizi, ternyata <em>Nata de Seaweeds </em>memiliki nilai gizi lebih tinggi daripada <em>Nata de coco, </em>yakni memiliki kandungan serat kasar 54,24% lebih tinggi daripada <em>Nata de Coco</em> serta kandungan air yang lebih rendah sehingga produk lebih kenyal dan awet. Nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan rumput laut menjadi <em>nata de seaweeds </em>adalah sebesar 900% serta proses pembuatannya lebih efisien 50% daripada pembuatan <em>nata de coco </em>biasa. Selain hal tersebut, metode pembuatan  <em>Nata de Seaweeds </em>yang diterapkan Mina Laras merupakan produk pertama kali di Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/minalaras.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/minalaras.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=minalaras.wordpress.com&#038;blog=35220038&#038;post=14&#038;subd=minalaras&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://minalaras.wordpress.com/2012/04/21/nata-de-seaweeds/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de117d7fae1a6fcd37a27039f4e3477c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">minalaras</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nata de Seaweeds</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://minalaras.files.wordpress.com/2012/04/nata-de-seaweed-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumput Laut</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
